Sabtu, 13 Juni 2015

RESUME HAKIKAT WACANA



                                               RESUME HAKIKAT WACANA    
Oleh : Kiki Andri Yani  ( 136828 )


A. Pengertian wacana
            Syamsudin (1992: 5) yang menyebutkan bahwa wacana ialah rangkaian ujar atau rangkaian tindak tutur yang mengungkapkan suatu hal (subjek) yang disajikan secara teratur, sistematis, dalam suatu kesatuan yang koheren, dibentuk oleh unsure segmental maupun nonsegmental. Wacana dalam pengertian ini memiliki penyajian yang teratur, sehingga tidak menyalahi aturan yang telah ditetapkan, sehingga layak disebut sebagai wacana.
            Wacana menurut Kridalaksana (1993: 231) adalah satuan bahasa terlengkap, dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal tertinggi atau terbesar. Hal ini sejalan dengan pengertian yang disebutkan oleh Tarigan (2009:19) bahwa wacana adalah satuan bahasa yang terlengkap dan tertinggi atau terbesar di atas kalimat atau klausa dengan koherensi dan kohesi yang tinggi yang berkesinambungan yang mempunyai awal dan akhir yang nyata disampaikan secara lisan dan tertulis.


B. Ciri – ciri wacana
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat diperoleh ciri atau karakterisitik sebuah wacana. Ciri-ciri wacana adalah sebagai berikut.
  1. Satuan gramatikal
  2. Satuan terbesar, tertinggi, atau terlengkap
  3. Untaian kalimat-kalimat
  4. Memiliki hubungan proposisi
  5. Memiliki hubungan kontinuitas, berkesinambungan
  6. Memiliki hubungan koherensi
  7. Memiliki hubungan kohesi
  8. Rekaman kebahasaan utuh dari peristiwa komunikasi
  9. Bisa transaksional juga interaksional
  10. Medium bisa lisan maupun tulis
Sesuai dengan konteks.
Syamsuddin (1992:5) menjelaskan ciri dan sifat sebuah wacana sebagai berikut.
  1. Wacana dapat berupa rangkaian kalimat ujar secara lisan dan tulis atau rangkaian tindak tutur
  2. Wacana mengungkap suatu hal (subjek)
  3. Penyajian teratur, sistematis, koheren, lengkap dengan semua situasi pendukungnya
  4. Memiliki satu kesatuan misi dalam rangkaian itu
  5. Dibentuk oleh unsur segmental dan nonsegmental .


C. Persyaratan Terbentuknya Wacana
Oka dan Suparno (1994: 260-270) menyebutkan jika wacana akan terbentuk bila memenuhi tiga syarat pokok, yakni topik, tuturan pengungkap topik, serta kohesi dan koherensi. Sedangkan menurut Widowson (1978:22) wacana mempunyai dua hal penting, yaitu proposisi (sejajar dengan topik) dan tindak tutur (tuturan pengungkap topik).Berikut ini penjabaran beberapa hal yang menjadi prasyaratan wacana.         
1.      Topik.
Sebuah wacana mengungkapkan satu bahasan atau gagasan. Gagasan tersebut akan diurai, membentuk serangkaian penjelasan tetapi tetap merujuk pada satu topik. Sehingga topik yang diangkat atau yang dimaksud memberikan suatu tujuan.
2.      Kohesi dan Koherensi
Sebuah wacana biasanya ditata secara serasi dan ada kepaduan antara unsur yang satu dengan yang lain dalam wacana (kohesi), sehingga tercipta pengertian yang baik (koherensi). Unsur kohesi tersebut misalnya dicapai dengan hubungan sebab-akibat, baik antarklausa maupun antarkalimat (Depdikbud, 1988:343-350). Kekohesifan dalam suatu wacana dapat diperoleh dari penggunaan dalam memadukan beberapa aspek  gramatikal (seperti; konjungsi, elipsi, kata ganti, dan lain-lain), aspek semantik, dan aspek kebahasaan lainnya.
3.      Proporsional
Prosorsional yang dimaksud ialah keseimbangan dalam makna yang ingin dijabarkan dalam wacana, atau makna yang terdapat dalam wacana, ialah seimbang.
4.      Tuturan
Tuturan yang dimaksud adalah pengungkapan suatu topik yang ada dalam wacana. Baik tutur tulis atau tutur lisan. tuturan kaitannya menjelaskan suatu topik yang terdapat dalam wacana dengan tetap adanya kohesi dan koherensi yang proporsional di dalamnya.


D.Jenis – jenis wacana
Berdasarkan bentuk atau jenisnya, wacana dibedakan menjadi empat  yaitu sbb:
1.      Wacana Narasi
Narasi adalah cerita yang didasarkan pada urut-urutan suatu kejadian atau peristiwa. Narasi dapat berbentuk narasi ekspositoris dan narasi imajinatif.
2.      Wacana Deskripsi
Deskripsi adalah karangan yang menggambarkan/suatu objek berdasarkan hasil pengamatan, perasaan, dan pengalaman penulisnya.
3.      Wacana Eksposisi
Karangan eksposisi adalah karangan yang memaparkan atau menjelaskan secara terperinci (memaparkan) sesuatu dengan tujuan memberikan informasi dan memperluas pengetahuan kepada pembacanya.
4.      Wacana Argumentasi
Karangan argumentasi ialah karangan yang berisi pendapat, sikap, atau penilaian terhadap suatu hal yang disertai dengan alasan, bukti-bukti, dan pernyataan-pernyataan yang logis.

E. Jenis- jenis wacana menurut para ahli
Menurut pendapat Leech (1974, dalam Kushartanti dan Lauder, 2008:91) tentang fungsi bahasa, wacana dapat diklasifikasi sebagai berikut.
1.    Wacana ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis sebagai sarana ekspresif, seperti wacana pidato.
2.    Wacana fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi, seperti wacana perkenalan dalam pesta.
3.    Wacana informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti wacana berita dalam media massa.
4.    Wacana estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan pesan, seperti wacana puisi dan lagu.
5.    Wacana direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.

F. Struktur wacana
Satuan-satuan bahasa secara linguistic mempunyai urutan dari yang terkecil sampe yang terbesar, maka urutan tersebut adalah sebagai berikut:
a.       Fonem
b.      Morfem
c.       Kata
d.      Frase
e.        Klausa
f.       Kalimat
g.      wacana    
Wacana merupakan segmen dari teks yang mempunyai kesatuan erat amat sederhana: wacana melibatkan suatu topik tunggal
      





Daftar Pustaka

Depdikbud, (1988). Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta.
Kridalaksana, Harimurti. 1993. Kamus Linguistik. Jakarta: Gramedia.                     
Oka, I.G.N dan Suparno. 1994. Linguistik Umum. Jakarta: Dirjendikti Depdikbud.
Syamsudin. 1992. Studi Wacana. Bandung: Mimbar Pendidikan.
Tarigan, Henry Guntur. 2009. Pengajaran Wacana. Bandung: ANGKASA.
Widdowson, H.G. (1978). Teaching Language as Communication. Oxford: Oxford University Press.

___________. Monday, August 18, 2014. Contoh Wacana Argumentasi, eksposisi, dan narasi. http://contohsimpel.blogspot.com/2014/08/contoh-wacana-argumentasi-eksposisi-dan.html.     Diakses pada hari Kamis tanggal 19/3/2015 pukul 07.55 WIB.

___________. 2015. Contoh Tepat Percakapan Interview Kerja

http://tipskarir.com/contoh-tepat-percakapan-interview-kerja/ Diakses pada hari Kamis tanggal 19/3/2015 pukul 8.17 WIB.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar